Mengintip Sunrise di Tanah Perantauan - Charis Fitriyanto

8 Juli 2018

Mengintip Sunrise di Tanah Perantauan

Sunrise di Tanah Perantauan

Baru kali ini saya merantau. Meninggalkan semua orang yang telah saya kenal: orang tua, saudara, dan kawan-kawan semua. Meninggalkan semua tempat yang sebelumnya pernah saya singgahi, menjelajah tempat baru yang belum saya kenal sama sekali.

Berangkat dari niat untuk mengubah nasib, berharap dan berusaha menjadikannya lebih baik. "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." [Ar-Ra’d/13:11].

Tanah perantauan tidak sama dengan tanah kelahiran. Kerasnya kehidupan akan lebih terasa di sini. Yang biasanya selalu bersama orang tua, sekarang jauh dari mereka. Yang biasanya makan disiapkan, sekarang harus beli ataupun masak sendiri.

Pokoknya, di sini kita akan diuji. Entah itu soal kemandirian, persahabatan, kebersamaan, ataupun kepedulian. Tapi tidak masalah. Yakinlah, ujian-ujian tersebut pasti berguna untuk kedepannya.

Motivasi Merantau Imam asy-Syafi'i

Merantaulah…

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang).

Merantaulah…

Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan.
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa.
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran.

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam.
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.

Merantaulah…

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)


Sumber: Diwan al-Imam asy-Syafi’i. Cet. Syirkah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Beirut. Hal. 39

Motivasi Imam asy-Syafii diatas menjadi tamparan keras untuk para remaja yang masih menghabiskan waktunya untuk mengurung diri dalam buaian kampung halaman. Beda lagi untuk mereka yang berkarya dan berusaha untuk maju, meski masih di tanah kelahiran.
Charis Fitriyanto

Jika tulisan di blog ini jelek, mohon harap maklum ya. Saya bukan penulis, hanya sekadar bocah ingusan yang pengen bisa menulis.

Belum Ada Komentar untuk "Mengintip Sunrise di Tanah Perantauan"

Komentari