Mengintip Sunrise di Tanah Perantauan - Charis Fitriyanto

9 Sep 2018

Mengintip Sunrise di Tanah Perantauan

Sunrise di Tanah Perantauan

MERANTAULAH
(Syair Imam Asy-Syafi'i)

Merantaulah..
Orang berilmu dan beradab, tidak diam beristirahat di kampung halaman..
Tinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang..

Merantaulah..
Kau kan dapati pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan..
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup kan terasa setelah lelah berjuang..

Aku melihat air menjadi kotor karena diam tertahan..
Jika mengalir, ia kan jernih..
Jika diam, ia kan keruh menggenang..

Singa jika tak tinggalkan sarang, tak kan mendapatkan makanan..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak kan mengenai sasaran..

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam..
Tentu manusia kan bosan, dan enggan untuk memandang..

Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah..
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika terus berada di dalam hutan..
Jika bijih emas memisahkan diri, barulah ia menjadi emas murni yang dihargai..
Jika kayu gaharu keluar dari hutan, ia kan menjadi parfum yang bernilai tinggi..

Tempat baru, suasana baru, orang baru, serta pengalaman baru akan menyambut kita saat pertama kali memijakkan kaki di tanah rantau. Semua tentang hal baru, tentang hal yang belum pernah kita temui di masa lalu.

Hidup ini penuh cerita. Tidak mungkin kita hanya berdiam diri dalam pelukan kampung halaman. Menikmati pagi, siang, sore, dan malam dalam dekapan zona nyaman. Masih banyak hal yang perlu dicari dan diceritakan, kawan!

Berangkat dari niat yang memang sudah bulat. Sejenak menahan rindu pada kampung halaman dan keluarga yang ditinggalkan. Membuka lembaran baru untuk sebuah kemajuan, di tanah perantauan.

Merantau untuk Sebuah Pekerjaan

Usai Wisuda Purna Widya, bekerja menjadi pilihan utama dan tanah perantauan menjadi destinasinya. Keinginan untuk membahagiakan orang tua tidak pernah luput dari otak kepala.

Memang, membahagiakan orang tua bukan melulu tentang uang ataupun penghasilan. Namun, hal tersebut sudah seperti kewajiban yang harus dilakukan. Kurang layak rasanya kalau seorang anak tidak bekerja atau berusaha untuk mencari penghasilan.

Sudah cukup kita merepotkan orang tua. Sudah bukan saatnya kita bergantung pada mereka. Sudah seharusnya kita beranjak menuju kedewasaan dengan belajar mandiri dalam kehidupan, meski sekadar buruh pabrik dengan kontrak tahunan.

Tanah perantauan tidak sama dengan tanah kelahiran dimana kita dibesarkan. Kerasnya kehidupan akan lebih terasa di sini. Yang biasanya selalu berasama orang tua, kini jauh dari mereka. Yang biasanya makan tinggal buka tudung saji, sekarang tidak seperti itu lagi.

Artikel ini akan berlanjut lagi...
Charis Fitriyanto

Jika tulisan di blog ini jelek, mohon harap maklum ya. Saya bukan penulis, hanya sekadar bocah ingusan yang pengen bisa menulis.

Berlangganan artikel terbaru via email:

Belum Ada Komentar untuk "Mengintip Sunrise di Tanah Perantauan"

Komentari